Hijau Atapku, Hijau Dompetku
Bila Anda menginginkan lingkungan perkotaan yang lebih hijau, mulailah dari atap. Atap bangunan yang ditutupi dengan tumbuhan dapat membantu mengurangi tagihan listrik dan meningkatkan kualitas udara.
Atap hijau sangat popular di Eropa, dan mulai terkenal di Amerika Utara. Ada yang menggunakan tanaman merambat seperti sedum (tanaman herbal) sementara ada yang lebih menyukai taman, dengan semak-semak atau pohon. Atap hijau memberikan banyak manfaat langsung, tapi bagaimana dengan efek jangka panjang? Para ilmuwan di University of Toronto menyelidiki dampak lingkungan dari atap hijau terhadap masa hidup bangunan.
Mereka menghitung dampak selama 50 tahun pada sebuah bangunan apartemen. Bangunan tersebut berdiri di Madrid, Spanyol dan memiliki atap datar konvensional, serta mendukung pembuatan atap hijau .
Christopher Kennedy, seorang professor bidang tekhnik sipil di universitas dan penulis studi bernama Saiz dan rekan lainnya menjelaskan bahwa efek utama berasal dari penghematan energi. Tumbuhan menyerap lebih sedikit cahaya matahari dibandingkan dengan atap konvensional, dan energi yang diserap digunakan untuk penguapan dan respirasi tumbuhan. Jadi, atap hijau akan membuat bangunan lebih sejuk, dan listrik yang digunakan untuk menyejukkan ruang dalam gedung menjadi berkurang.
Makalah yang dipublikasikan dalam Environmental Science and Technology ini menunjukkan penghematan listrik pada musim panas hingga 6% dan secara keseluruhan 1%. Bila atap hijau dibuat di rumah-rumah, maka dampaknya akan mengurangi “pemanasan pulau” – pemanasan atap dan jalan yang hangus. Pemanasan bumi juga bisa disebabkan oleh awan-awan buangan pesawat. Awan-awan buangan pesawat yang saling silang di daerah penerbangan padat bisa menjadi pemandangan indah, tapi tapi juga diperkirakan memiliki efek terhadap iklim. Hal ini dikarenakan garis awan – yang tercipta saat penguapan dalam mesin jet memadat – dapat menghalangi radiasi sinar matahari dan suhu panas.
Efek tersebut bekerja dengan dua cara: Awan menghalangi sinar matahari yang seharusnya mencapai ke permukaan bumi, dan juga menjerat panas yang memantul dari awan. Ilmuwan menduga efek jaringan ini akan dapt semakin menghangatkan bumi, karena suhu yang terperangkap melebihi sinar matahari yang dihalangi. Dampak lebih besar terjadi pada malam hari, menurut studi yang dilakukan oleh Nicola Stuber dan rekan-rekannya dari University of Reading di Inggris.
Analisis yang dilaporkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa meskipun penerbangan pada malam hari hanya berjumlah ¼ dari penerbangan total, penerbangan malam hari mengkonstribusikan efek pemanasan hingga lebih dari 80%. Kata para peneliti, selama siang hari, kedua efek saling menutupi. Tapi pada malam hari, tidak ada sinar matahari yang dihalangi oleh awan buatan, sehingga efek menjerat panas lebih dominan.
© Susan Enjelin 2007110069

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda