Kamis, 10 Januari 2008

GLOBAL WARMING

Membuat Resiko Penyakit Infeksi Meningkat
Seiring meningkatnya suhu bumi, kita akan menghadapi perubahan signifikan pola penyakit menular di seluruh penjuru dunia. Perubahan seperti apa yang akan terjadi masih belum jelas, tapi para ilmuwan sepakat bahwa perubahan tersebut bukan kabar baik.
“ Perubahan lingkungan selalu terkait dengan munculnya penyakit baru atau timbulnya penyakit lama di tempat-tempat baru. Dengan semakin banyak perubahan, maka kita pasti akan banyak menemukan banyak kejutan,” kata Stephen Morse dari Columbia University, dalam Rapat Umum American Society for microbiology ke-107 di Toronto.
“ Penyakit-penyakit yang dibawa oleh serangga dan kutu lebih cenderung terpengaruh perubahan lingkungan karena makhluk-makhluk tersebut sangat sensitive terhadap tipe tumbuh-tumbuhan, suhu, kelembaban, dan sebagainya. Meskipun demikian, arah perubahan – apakah penyakit akan bertambah atau berkurang – cukup sulit untuk diprediksi, karena transmisi penyakit meliputi banyak factor, ada factor yang akan meningkat dan ada yang menurun sesuai dengan perubahan lingkungan.
Kombinasi dari catatan penyakit historikaldan pengamatan di bumi, satelit jaraj jauh dan data lain, serta model prediktif yang baik diperlukan untuk menjelaskan penyakit menular di masa lalu, menjelaskan penyakit masa sekarang, dan memprediksi penyakit di masa mendatang,: kata David Rogers dari Oxford University.
Salah satu dampak peningkatan suhu global dapat diprediksi dengan cukup akurat, kata Morse. Di daerah pegunungan, malaria tidak dapat ditransmisikan di atas ketinggian tertentu karena suhu yang terlalu dingin tidak disukai nyamuk. Bila suhu meningkat, garis malaria ini akan meningkat juga. “ Salah satu indikator kenaikan suhu global pertama adalah kenaikan garis gunung malaria,” kata Morse.
Perubahan lazim lainnya adalah musim flu. Influenza adalah penyakit sepanjang tahun di daerah tropis. Bila massa udara di daerah tropis di ekuator bumi meluas, maka akan muncul area baru dengan influenza terjadi sepanjang tahun. Cuaca ekstrim juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit baru. Dengan perubahan frekuensi, intensitas, dan durasi kejadian cuaca ekstrim, suplai air juga semakin berisiko, menurut Joan Rose dari Michigan State University.
“ Angin ribut, topan, tornado, dan badai berintensitas tinggi telah memperburuk kondisi infrastruktur air minum yang sudah tua dan infrastruktur air limbah, bercampurnya kotoran dan suplai air, mengangkat patogen dari sedimen dan menyebabkan populasi besar harus bernaung di tempat perlindungan sementara. Kita menghadapi resiko yang lebih besar dibanding sebelumnya terhadap penyakit menular karena meningkatnya kejadian cuaca ekstrim,” kata Rose.
Selain itu, ada juga efek tidak langsung dari perubahan iklim terhadap penyakit menular. Sebagai contoh, efek pemanasan global dalam bidang pertanian dapat menyebabkan perubahan transmisi dan distribusi penyakit yang signifikan, kata Morse.
“ Saya mengkhawatirkan perubahan iklim dan saya setuju bahwa kita harus melakukan sesuatu,” kata Morse. “ Bila tidak, kita hanya bisa berharap pada keberuntungan.”
Jadi, apa yang dapat kita lakukan saat ini? Kendalikan apa yang kita makan, dan rutin berolahraga agar tubuh kita lebih kokoh terhadap berbagai macam penyakit.
© Susan Enjelin 2007110069

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda