Sabtu, 12 Januari 2008

HOT NEWS!!! ternyata global warming juga mempengaruhi perkembangan mikroba....




Pemanasan global ternyata mempengaruhi kehidupan kita. Mulai dari segi ekonomi, sosial budaya dan kesehatan. Perilaku kita pun berinteraksi dengan kondisi pemanasan global sehingga turut mendukung terjadinya gangguan kesehatan. Apakah mungkin? Dari hasil laporan WHO dikatakan peningkatan suhu permukaan bumi juga diikuti oleh peningkatan permukaan laut. Yang mengakibatkan peningkatan risiko terjadinya banjir. Peningkatan suhu permukaan bumi juga mempengaruhi curah hujan. Peningkatan curah hujan juga meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir.
Dalam terjadinya penyakit, pemanasan global juga mempengaruhi perkembangan mikroba. Salah satu contohnya dalam daerah sekitar laut, dikatakan peningkatan suhu permukaan laut menyebabkan peningkatan populasi dari fitoplankton, makanan bagi zooplankton. Ternyata bakteri colera menempel pada zooplankton. Dengan peningkatan makanan bagi zooplankton maka populasi zooplankton akan meningkat, dan akibatnya meningkatkan populasi dan risiko terjadinya penyakit kolera. Interaksi antara hewan perantara penyakit dan manusia pun meningkat. Dengan adanya banjir maka sampah-sampah atau limbah terbawa ke lingkungan manusia, hewan-hewan pengerat pun kehilangan tempat tinggal dan merekan mencari tempat aman yaitu ke pemukiman manusia, hal ini meningkatkan kemungkinan kontak antara manusia dengan hewan pengerat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit yang diperantarai hewan pengerat.


by.dewi  

Pliz see this video, all about global warming

quick search my posting : 

HOT NEWS!!! ternyata global warming juga mempengaruhi perkembangan mikroba....
Global Warming a.k Kerusakan Hutan
save the climate
Banyaknya es yang mencair
dampak pemanasan global 
salah satu akibat dari GB warming

Jumat, 11 Januari 2008


Dampak Global Warming di Indonesia!!!
-Permukaan laut Indonesia naik 0,8 cm per tahun dan berdampak pada tenggelamnya pulau- pulau nusantara hampir satu meter dalam 15 tahun ke depan.
-Terjadinya pergeseran iklim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan.
-Berkurang persediaan air bersih.
-Kenaikan suhu yang ekstrem beberapa waktu belakangan ini, misalnya di Jakarta biasanya 32-34 naik menjadi 36 derajat Celcius.
-Jakarta adalah satu dari 180 kota di dunia yang 70 persen wilayahnya berada di kawasan pantai berelevasi rendah yang terancam oleh naiknya permukaan laut akibat pemanasan global itu.
-Pada 2080 lebih dari 100 juta manusia akan terkena bencana banjir tiap tahun.
-Bahkan pada 2090 diramalkan terjadinya air bah raksasa.
-Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flaura dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30% atau sebanyak 90-95% karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut.
-Memicu meningkatnya kasus penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. Setiap tahunnya di Indonesia semakin banyak pasien penderita penyakit ini.
-Indonesia yang terletak di equator merupakan negara yang pertama sekali akan merasakan dampak perubahan iklim. Dampak tersebut telah dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
-Diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut.
-Hasil pertanian telah merosot tajam sementara curah hujan berkurang dan tak beraturan, sehingga petani terpaksa meninggalkan lahan mereka agar mereka dapat menghidupi keluarga mereka. (berbagai sumber)

AYO!!! Kapan lagi kita mau bertindak kalau tidak dimulai dari sekarang??? AYO, bersama-sama kita menjadi bagian dari anti global warming!!!!
Pikirkan anak-cucu kita... Sudah saatnya kita menjadi bagian untuk menjaga bumi kita dari kehancurkan yang disebabkan pemanasan global!!
Jangan pernah berpikir,”ngapain guw ikut kegiatan anti global warming, kan guw cuma sendiri, mana ada gunanya?!”... karena kalau semua berpikir hal yang sama, bagaimana bumi kita bisa diselamatkan??? Berpikirlah bahwa banyak orang yang sedang berusaha melawan global warming bersama dengan kamu.


Anti global warming,


_yUNILa_

Kamis, 10 Januari 2008

Pemanasan Global Semakin Mengancam

Para ilmuwan telah menemukan sisa koloni elephant seal (anjing laut besar) di Antartika dekat ross Ice Shelf, berarti iklim daerah ini lebih hangat pada zaman dulu disbanding sekarang. Penemuan tersebut juga memberikan gambaran yang akan terjadi terhadap lempengan es di masa mendatang. Sekarang tempat kawin anjing laut adalah di utara antartika, kebanyakan di pulau terpencil Samudra Selatan. Hewan tersebut memerlukan akses ke perairan terbuka, dan perluasan es di sekeliling benua tersebut sekarang terlalu besar.
Brenda L. Hall dari University of maine dan rekan-rekannya menemukan kulit dan rambut anjing laut serta peninggalan di beberapa tempat di sepanjang pantai Victoria Land di Ross Sea. Penemuan yang dipublikasikan dalam The Proceedings of The National Academy of Sciences, mendemonstrasikan bahwa anjing laut biasanya kawin dan ganti bulu di daerah tersebut. Mereka mengemukakan bahwa pemanasan global telah menyebabkan lempengan es menipis atau menghilang.
Analisis dengan radiocarbon menetapkan bahwa peninggalan tersebut berasal dari 250 tahun hingga lebih dari 6000 tahun yang lalu. Lokasi anjing laut semakin maju sejak 1100 hingga 2300 tahun yang lalu, mengindikasikan bahwa sebelumnya terdapat periode dimana derah tersebut cukup hangat.Banyak ilmuwan khawatir dengan semakin hangatnya iklim, perluasan es besar seperti Ross Ice Shelf akan menepis dan akhirnya akan pecah, bahkan bisa saja terjadi pada abad ini.
© Susan Enjelin 2007110069

Hijau Atapku, Hijau Dompetku

Bila Anda menginginkan lingkungan perkotaan yang lebih hijau, mulailah dari atap. Atap bangunan yang ditutupi dengan tumbuhan dapat membantu mengurangi tagihan listrik dan meningkatkan kualitas udara.
Atap hijau sangat popular di Eropa, dan mulai terkenal di Amerika Utara. Ada yang menggunakan tanaman merambat seperti sedum (tanaman herbal) sementara ada yang lebih menyukai taman, dengan semak-semak atau pohon. Atap hijau memberikan banyak manfaat langsung, tapi bagaimana dengan efek jangka panjang? Para ilmuwan di University of Toronto menyelidiki dampak lingkungan dari atap hijau terhadap masa hidup bangunan.
Mereka menghitung dampak selama 50 tahun pada sebuah bangunan apartemen. Bangunan tersebut berdiri di Madrid, Spanyol dan memiliki atap datar konvensional, serta mendukung pembuatan atap hijau .
Christopher Kennedy, seorang professor bidang tekhnik sipil di universitas dan penulis studi bernama Saiz dan rekan lainnya menjelaskan bahwa efek utama berasal dari penghematan energi. Tumbuhan menyerap lebih sedikit cahaya matahari dibandingkan dengan atap konvensional, dan energi yang diserap digunakan untuk penguapan dan respirasi tumbuhan. Jadi, atap hijau akan membuat bangunan lebih sejuk, dan listrik yang digunakan untuk menyejukkan ruang dalam gedung menjadi berkurang.
Makalah yang dipublikasikan dalam Environmental Science and Technology ini menunjukkan penghematan listrik pada musim panas hingga 6% dan secara keseluruhan 1%. Bila atap hijau dibuat di rumah-rumah, maka dampaknya akan mengurangi “pemanasan pulau” – pemanasan atap dan jalan yang hangus. Pemanasan bumi juga bisa disebabkan oleh awan-awan buangan pesawat. Awan-awan buangan pesawat yang saling silang di daerah penerbangan padat bisa menjadi pemandangan indah, tapi tapi juga diperkirakan memiliki efek terhadap iklim. Hal ini dikarenakan garis awan – yang tercipta saat penguapan dalam mesin jet memadat – dapat menghalangi radiasi sinar matahari dan suhu panas.
Efek tersebut bekerja dengan dua cara: Awan menghalangi sinar matahari yang seharusnya mencapai ke permukaan bumi, dan juga menjerat panas yang memantul dari awan. Ilmuwan menduga efek jaringan ini akan dapt semakin menghangatkan bumi, karena suhu yang terperangkap melebihi sinar matahari yang dihalangi. Dampak lebih besar terjadi pada malam hari, menurut studi yang dilakukan oleh Nicola Stuber dan rekan-rekannya dari University of Reading di Inggris.
Analisis yang dilaporkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa meskipun penerbangan pada malam hari hanya berjumlah ¼ dari penerbangan total, penerbangan malam hari mengkonstribusikan efek pemanasan hingga lebih dari 80%. Kata para peneliti, selama siang hari, kedua efek saling menutupi. Tapi pada malam hari, tidak ada sinar matahari yang dihalangi oleh awan buatan, sehingga efek menjerat panas lebih dominan.
© Susan Enjelin 2007110069

GLOBAL WARMING

Membuat Resiko Penyakit Infeksi Meningkat
Seiring meningkatnya suhu bumi, kita akan menghadapi perubahan signifikan pola penyakit menular di seluruh penjuru dunia. Perubahan seperti apa yang akan terjadi masih belum jelas, tapi para ilmuwan sepakat bahwa perubahan tersebut bukan kabar baik.
“ Perubahan lingkungan selalu terkait dengan munculnya penyakit baru atau timbulnya penyakit lama di tempat-tempat baru. Dengan semakin banyak perubahan, maka kita pasti akan banyak menemukan banyak kejutan,” kata Stephen Morse dari Columbia University, dalam Rapat Umum American Society for microbiology ke-107 di Toronto.
“ Penyakit-penyakit yang dibawa oleh serangga dan kutu lebih cenderung terpengaruh perubahan lingkungan karena makhluk-makhluk tersebut sangat sensitive terhadap tipe tumbuh-tumbuhan, suhu, kelembaban, dan sebagainya. Meskipun demikian, arah perubahan – apakah penyakit akan bertambah atau berkurang – cukup sulit untuk diprediksi, karena transmisi penyakit meliputi banyak factor, ada factor yang akan meningkat dan ada yang menurun sesuai dengan perubahan lingkungan.
Kombinasi dari catatan penyakit historikaldan pengamatan di bumi, satelit jaraj jauh dan data lain, serta model prediktif yang baik diperlukan untuk menjelaskan penyakit menular di masa lalu, menjelaskan penyakit masa sekarang, dan memprediksi penyakit di masa mendatang,: kata David Rogers dari Oxford University.
Salah satu dampak peningkatan suhu global dapat diprediksi dengan cukup akurat, kata Morse. Di daerah pegunungan, malaria tidak dapat ditransmisikan di atas ketinggian tertentu karena suhu yang terlalu dingin tidak disukai nyamuk. Bila suhu meningkat, garis malaria ini akan meningkat juga. “ Salah satu indikator kenaikan suhu global pertama adalah kenaikan garis gunung malaria,” kata Morse.
Perubahan lazim lainnya adalah musim flu. Influenza adalah penyakit sepanjang tahun di daerah tropis. Bila massa udara di daerah tropis di ekuator bumi meluas, maka akan muncul area baru dengan influenza terjadi sepanjang tahun. Cuaca ekstrim juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit baru. Dengan perubahan frekuensi, intensitas, dan durasi kejadian cuaca ekstrim, suplai air juga semakin berisiko, menurut Joan Rose dari Michigan State University.
“ Angin ribut, topan, tornado, dan badai berintensitas tinggi telah memperburuk kondisi infrastruktur air minum yang sudah tua dan infrastruktur air limbah, bercampurnya kotoran dan suplai air, mengangkat patogen dari sedimen dan menyebabkan populasi besar harus bernaung di tempat perlindungan sementara. Kita menghadapi resiko yang lebih besar dibanding sebelumnya terhadap penyakit menular karena meningkatnya kejadian cuaca ekstrim,” kata Rose.
Selain itu, ada juga efek tidak langsung dari perubahan iklim terhadap penyakit menular. Sebagai contoh, efek pemanasan global dalam bidang pertanian dapat menyebabkan perubahan transmisi dan distribusi penyakit yang signifikan, kata Morse.
“ Saya mengkhawatirkan perubahan iklim dan saya setuju bahwa kita harus melakukan sesuatu,” kata Morse. “ Bila tidak, kita hanya bisa berharap pada keberuntungan.”
Jadi, apa yang dapat kita lakukan saat ini? Kendalikan apa yang kita makan, dan rutin berolahraga agar tubuh kita lebih kokoh terhadap berbagai macam penyakit.
© Susan Enjelin 2007110069

8 Cara Mendapatkan Rumah Hijau:

 Ganti penerangan rumah dengan lampu fluorescent yang lebih hemat energi
 Cek dan bersihkan AC dan alat pendingin lain secara rutin
 Gunakan material- material yang bebas racun atau bahan organik berbahaya
 Pilihlah bahan bangunan yang bisa di daur ulang atau yang masa tumbuhnya tidak terlalu
lama, seperti bambu
 Tanami perkarangan rumah dengan tumbuhan besar yang mampu mengurangi cahaya
matahari yang masuk ke rumah
 Gunakan tanaman local, karena lebih mampu beradaptasi dengan kondisi tanah setempat,
sehingga tidak harus diberi perawatan extra. Dengan cara ini, Anda dapat mengurangi
pemakaian pupuk, pestisida, dan air.
© Susan Enjelin 2007110069

Green building

Salah satu cara mengurangi pemanasan global yang sedang populer di kalangan properti di Amerika Serikat adalah pembuatan “green building”. Pembangunan green building dirasa sudah mendesak karena ternyata bangunan memberi andil cukup besar terhadap pemanasan global.
USGBC (United State Green Building Council) menyebutkan, bangunan menghasilkan 65% dari total listrik yang digunakan di seluruh Negara Amerika Serikat, menyumbang 30% menghasilkan 65% dari total listrik yang digunakan di seluruh Negara Amerika Serikat , menyumbang 30% gas rumah kaca, menghasilkan 30% sampah (yang berarti menghasilkan 30% gas metan), dan menggunakan 12% dari keseluruhan total air.
Jika bangunan menggunakan prinsip green building, otomatis angka- angka tersebut bisa dikurangi. Survey USGBC membuktikan, bahwa bangunan yang menggunakan prinsip green building mampu menurunkan penggunaan energi hingga 30%, mengurangi pemakaian air hingga 50% dan mengurangi sampah hingga 90%. Selain berdampak positif terhadap iklim dunia, pengurangan energi dan air serta sampah mampu memberikan keuntungan financial bagi pengelola bangunan.
© Susan Enjelin 2007110069